Mengabdilah Kepada Ibu Seperti Mengabdinya Uwais Al Qarni - Saliha

OASE

Mengabdilah Kepada Ibu Seperti Mengabdinya Uwais Al Qarni

BY TIM EDITOR

2018-04-26 15:51:00


SALIHA.ID - Ibu adalah sosok yang sangat berjasa bagi kita. Berkat beliaulah kita hadir di dunia ini. Ia melahirkan kita dengan taruhan nyawa. Ia juga adalah orang yang membesarkan kita dengan penuh kasih sayang, dan satu-satunya orang yang paling mengasihi kita. Andai kata seluruh dunia membenci, datanglah pada ibu. Maka ia akan menjadi satu-satunya orang yang memberikan pelukan. Kasihnya sepanjang jalan, doanya mengiringi kita sepanjang usia.

Dalam Islam, berbakti kepada orang tua menjadi hal yang sangat diperhatikan. Saking riskannya urusan ini, dikatakan bahwa durhaka pada orang tua menjadi dosa besar urutan kedua setelah menyekutukan Allah.

Bahkan, seorang anak yang mendapat murka orang tuanya, maka akan mendapatkan murka Allah juga. Sedang barang siapa yang orang tuanya rida terhadapnya, maka Allah pun meridai. Sungguh luar biasa Islam mengatur agar seorang anak membaktikan diri sepenuhnya kepada ibu bapak mereka.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah bersabda :

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, belia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.'” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)

Sahabat Saliha, berbakti kepada ibu bapak memang suatu keharusan. Namun, dari hadis di atas menunjukkan bahwa berbakti pada ibu harus dinomor satukan. Karena besarnya jasa ibu yang telah mengandung, melahirkan, menyusui dan membesarkan kita, hingga apa pun yang kita berikan tak akan mampu membalasa semua jasanya, maka Allah memberikan keutamaan.

Dalam hadis di atas Rasulullah menyebut ibumu, ibumu, ibumu sebanyak tiga kali, baru kemudian ayahmu pada seorang sahabat yang bertanya siapa orang pertama yang harus ia baktikan. Hal ini menegaskan bahwa ibu menempati kedudukan pertama sebagai orang yang wajib kita perlakukan dengan baik.

Berbakti kepada ibu saat ia masih hidup adalah dengan menyayanginya, merawatnya saat ia telah lanjut usia, serta memperlakukan ia sebaik mungkin seperti ia selalu memberi yang terbaik untuk kita. Sementara, apabila ibu telah tiada, maka cara kita berbakti kepadanya adalah dengan mengirimkan doa agar Allah mengampuni segala dosa-dosanya.

Contoh yang patut kita teladani dalam rangka berbakti kepada ibu adalah sosok Uwais Al Qarni. Ia adalah seorang pemuda yang tinggal berdua saja dengan ibunya di daerah Yaman. Suatu hari, ibunya mengatakan bahwa ia ingin menunaikan ibadah haji. Dalam hati Uwais berkata, bagaimana caranya ia dan ibunya pergi ke Mekkah, sementara mereka miskin papa dan ibunya sudah tua renta bahkan tidak sanggup lagi berjalan.

Namun, saking berbaktinya ia terhadap ibunya, akhirnya ia pun menggendong sang ibu dari Yaman menuju Mekkah, melintasi gurun pasir yang panas terik di siang hari dan dingin menusuk tulang di malam harinya.

Sesampainya di Mekkah, ia tetap menggendong ibunya melaksanakan segala rukun dan wajib haji. Dia sempat berdoa kepada Allah agar dosa-dosa ibunya diampuni dan memasukkan sang ibu ke dalam surga-Nya.

Saat sang ibu menanyakan kenapa ia tidak berdoa untuk dirinya sendiri, Uwais menjawab bahwa apabila sang ibu telah rida, maka mudah saja baginya untuk masuk surga pula. Karena baktinya ini, Uwais menjadi salah seorang yang tidak cukup dikenal di muka bumi, tapi sangat terkenal seantero langit.

Itulah kisah Uwais, seorang pemuda yang mencari rida ibunya untuk bisa masuk surga. Sahabat Saliha, semoga kita semua termasuk orang-orang yang dapat berbakti kepada kedua orang tua dan mendapatkan rida Allah. Aamiin.

 

Tulisan ini merupakan kiriman kontributor Ayu Fitri Septina, Batang, Jawa Tengah. Dari kecil suka membaca buku dan menulis diary, bermimpi kelak bisa menjadi seorang penulis yang menginspirasi. Menjadi salah satu kontributor dari antologi Dear Mantan dan Selamat Tinggal Desember. Penulis membulatkan niat untuk menekuni dunia kepenulisan, meski latar belakang pendidikannya adalah DIII Kebidanan. Penulis bisa dihubungi melalui facebook Ayu Fitri Septina, email : septiwijay19@gmail.com, atau di blog pribadinya www.kisahdisuatusenja.blogspot.com.


    BY TIM EDITOR

loading