Khawatir Anak Kecanduan Pornografi? Yuk Ajarkan Pendidikan Fitrah Seksualitas - Saliha

LOVE

Khawatir Anak Kecanduan Pornografi? Yuk Ajarkan Pendidikan Fitrah Seksualitas

BY TIM EDITOR

2018-04-27 15:25:00


SALIHA.ID - Pornografi dan kecanggihan teknologi adalah hal yang tak bisa dipishkan. Efek negatif dari kecanggihan teknologi adalah semakin mudahnya akses terhadap pornografi. Internet menjadi jembatan mudah bagi anak untuk mendapatkan konten pornografi.

Data anak yang mengakses pornografi, setiap tahunnya terus meningkat. Data dari Komisi Nasional Perlindungan Anak, menujukkan bahwa 97% anak Indonesia di 12 kota sudah mengakses pornografi. Hal ini sungguh memprihatinkan.

Pornografi, sebagaimana kita ketahui bersama akan memberikan dampak yang buruk bagi perkembangan otak anak. Menurut psikolog anak, Elly Risman, anak yang kecanduaan pornografi akan membuat otak anak rusak. Pre Frontal Cortex (PFC) atau bagian otak depan anak adalah bagian otak yang menjadi rusak jika telah kecanduan pornografi.

Padahal, fungsi dari PFC pada otak adalah untuk merencanakan, mengendalikan emosi, mengambil keputusan, dan berpikir kritis dan lainnya. Fungsi PFC ini terus berkembang dan akan matang pada usia 25 tahun, maka bayangkanlah jika dalam tahap perkembangannya fungsi ini telah rusak bahkan sebelum mencapai kematangan.

Oleh karena itu, kecanduan pornografi pada anak harus segera ditangani. Lalu bagimana menangani anak yang kecanduan pornografi? Jawabannya adalah melalui pendidikan fitrah seksualitas. Apa itu pendidikan fitrah seksualitas? Apa bedanya dengan pendidikan seksualitas?.

Nah begini, Sahabat Saliha. Setiap anak sebenarnya lahir dengan fitrahnya masing-masing. Tugas orangtua adalah membangkitkan fitrah yang dimiliki anak, agar fitrah-fitrah tersebut mampu berkembang optimal. Termasuk fitrah seksualitas.

Fitrah seksualitas adalah bagaimana seseorang berpikir, merasa dan bersikap sesuai dengan fitrahnya sebagai lelaki sejati atau sebagai perempuan sejati. Pendidikan fitrah seksualitas tentu berbeda dengan pendidikan seks. Memulai pendidikan fitrah seksualitas tentu pada awalnya tidak langsung mengenalkan anak pada aktivitas seksual, seperti masturbasi, onani, hubungan seksual atau yang lainnya.

Ada tiga tujuan utama yang ingin dicapai pada pendidikan fitrah seksualitas ini.

Pertama, membuat anak mengerti tentang identitas seksualnya. Anak bisa memahami bahwa dia itu laki-laki ataupun perempuan. Anak sudah harus bisa memastikan identitas seksualnya sejak berusia tiga tahun. Orangtua mengenalkan organ seksual yang dimiliki oleh anak. Ada baiknya dikenalkan dengan nama ilmiahnya, misalnya vagina pada perempuan atau penis pada laki-laki. Mengapa harus nama ilmiah? Ini menghindarkan pada pentabuan.

Sayangnya, selama ini pembicaraan seputar seksualitas dianggap tabu oleh masyarakat. Karena penjelasannya seringkali tidak secara ilmiah. Hal yang tabu ini bisa mendorong anak untuk mencari-cari secara sembunyi-sembunyi. Dan ini pada akhirnya akan memulai datangnya masalah penyimpangan seksual pada anak.

Di sinilah peran Orangtua. Orangtua harus menjadi pihak pertama yang secara jujur dan terbuka dalam menyampaikan hal yang berkaitan dengan organ seksual anak. Sehingga anak akan mampu dengan jelas memahami identitas seksualnya.

Kedua, mengenali peran seksualitas yang ada pada dirinya. Anak mampu menempatkan dirinya sesuai peran seksualitasnya. Seperti cara berbicara, cara berpakaian atau merasa, berpikir dan bertindak. Sehingg anak akan mampu dengan tegas menyatakan "saya laki-laki" atau "saya perempuan".

Ketiga, mengajarkan anak untuk melindungi dirinya dari kejahatan seksual. Ketika anak sudah lancar berbicara dan mulai berkativitas dengan peer groupnya di luar rumah, maka orangtua perlu mengajarkan tentang area pribadi tubuhnya. Area pribadi tubuh adalah bagian tubuh yang tidak boleh dipegang oleh orang lain, kecuali untuk pemeriksaan atau untuk dibersihkan. Hanya orangtua ataupun dokter yang boleh memegang area pribadi ini. Ada empat area pribadi yaitu anus, kemaluan, payudara dan mulut.

Saya mulai mengenalkan area pribadi ini kepada anak saya ketika dia berusia 3 tahun, hampir sejak dua tahun yang lalu. Dengan demikian anak akan waspada kepada pihak-pihak yang akan melakukan kejahatan seksual padanya.

Lalu sekarang pertanyaannya, bagaimana cara menerapkan pendidikan fitrah seksualitas? Pendidikan fitrah seksualitas diterapkan sesuai tahap usia anak. Membangkitkan fitrah seksualitas anak bisa dimulai sejak mereka dilahirkan. Bagaimana caranya? Yuk simak artikel berikutnya.

Tulisan ini merupakan kiriman Dian Kusumawardani, Penulis buku Ibuku adalah Sekolah Terbaikku.


    BY TIM EDITOR

loading